Fakta atau mitos?

Efek thermic protein sama dengan efek thermic dari karbohidrat dan lemak.

Hint:

Efek termic dari aktivitas makan atau disebut juga Diet Induced Thermogenesis (DIT), yakni jumlah energi yang harus digunakan oleh tubuh untuk mencerna dan mengasimilasi makanan. Bayangkan sebuah dada ayam (kebanyakkan terdiri atas protein), semangkok nasi (kebanyakkan adalah karbohidrat), dan satu sendok the butter (kebanyakkan adalah lemak). Menurut kalian, manakah yang akan paling sulit untuk dicerna oleh tubuh?

suplemenku-protein-9

Jawaban:

Dari ketiga macronutrisi tersebut, protein menduduki peringkat paling tinggi dalam Diet Induced Thermogenesis. Jadi ini adalah sebuah mitos ketika kita mengasumsi protein, karbohidrat dan lemak memiliki efek thermic yang sama. Ini berarti tubuh akan membakar lebih banyak kalori untuk mencerna dan menyerap protein dibandingkan terhadap lemak dan karbohidrat.

Alasan:

Konsumsi protein memerlukan pengeluaran sekitar 20-30% kalori yang diambil dari protein. Jadi, jika kita memakan sekitar 200 kalori protein, 40-60 kalori akan terbakar selama proses pencernaan. DIT dari karbohidrat adalah 15-20% dan 2-5% pada lemak.

 

Fakta atau mitos?

Protein lebih terasa “mengisi” dibandingkan lemak dan kabohidrat

Hint:

Protein memiliki dampak terhadap CCK (cholecystokinin) dan ghrelin. Protein menstimulasi cholecystokinin (CCK) dan menurunkan ghrelin. CCK yang kebanyakkan terletak secara sembunyi di bawah lapisan daerah gastrointestinal (usus) menunjukkan bahwa CCK berperan dalam memberikan perasaan kenyang. Efek kenyang dari CCK pertama kali dipertunjukkan ketika menjalankan tes CCK terhadap tikus. Ghrelin diproduksi terutama di dalam perut dan memiliki properti yang menaikkan nafsu makan.

Jawaban:

Adalah sebuah fakta jika protein pada umumnya akan memberikan efek kenyang dibandingkan karbohidrat dan lemak. Ketika membandingkan protein, lemak dan karbohidrat, protein biasanya akan memberikan hasil yang dapat memberikan respon paling kenyang (perasaan puas sampai sebuah titik kenyang atau bahkan lebih), sedangkan lemak adalah yang paling tidak memberikan rasa kenyang.

Alasan:

Penelitian mengindikasikan bahwa salah satu dari faktor utama yang terlibat dengan efek mengenyangkan dari protein adalah efek thermic dari aktivitas makan, yang dijelaskan di Fakta atau mitos sebelumnya. Walaupun dampak protein terhadap ghrelin dan CCK memainkan peran yang besar terhadap efek mengenyangkan, masih perlu diadakan penelitian lanjutan di dalam aria ini, karena penemuan yang sudah ada masih belum pasti. Penelitian di masa mendatang harus memfokuskan pada tingkat protein yang berbeda-beda, tipe protein yang berbeda-beda, dan konsumsi protein dalam jangka waktu pendek dan panjang.

Penjelasan ilmiah:

  1. Sebuah ulasan yang dipublikasikan pada Nutrition & Metabolism melaporkan bahwa protein yang menyebabkan efek thermogenesis memiliki dampak penting terhadap rasa kenyang. “Protein memainkan peranan penting dalam regulasi berat tubuh melalui rasa kenyang yang berhubungan dengan DIT.”
  2. Sebuah studi dipublikasikan dalam Physiology & Behavior menginvestigasi hubungan efek rasa kenyang macronutrisi pada wanita-wanita yang tidak berlemak (lean). Dalam empat (4) kasus berbeda, komposisi dari makan siang isocaloric (memiliki rasio karbohidrat, fat dan protein yang sama) diatur pada 12 wanita yang lean. Komposisi macronutrisi memiliki efek yang besar terhadap rasa lapar dalam jangka waktu pendek – para wanita merasakan rasa lapar yang kurang setelah melakukan preload dengan protein dibandingkan dengan preload macronutrien lainnya. Mereka juga makan lebih sedikit setelah preload dengan protein.
  3. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di the American Journal of Clinical Nutrition mencoba sebuah prediksi yang memiliki hipotesis bahwa menambah protein sembari menjaga kadar karbohidrat dalam sebuah diet akan menurunkan berat badan karena menurunkan nafsu makan dan menurunkan konsumsi kalori. Penelitian tersebut menunjukkan kenaikkan konsumsi protein dari 15% sampai 30% dari diet (sembari makan jumlah karbohidrat yang sama) terjadi penurunan nafsu makan dan lebih sedikit kalori yang dikonsumsi.
  4. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism mempublikasikan sebuah penelitian yang membandingkan efek dari jenis protein dan karbohidrat yang berbeda sebagai indikator dari nafsu makan dan hormone pengatur nafsu makan. Tingkat CCK adalah salah satu hasil yang diukur.

Konsumsi kalori lebih tinggi setelah preload dengan glucose dibandingkan dengan preload lactose dan protein. Tingkat CCK lebih tinggi selama 90 menit setelah preload protein dibandingkan dengan tingkat glucose dan lactose. Peneliti menyimpulkan bahwa “nafsu makan dan asupan energy sama-sama berkurang setelah konsumsi lactose, casein, atau whey jika dibandingkan dengan glucose.”

Kesimpulan

Penelitian terkadang menjadi sedikit bermasalah. Sebagai contoh, beberapa penelitian masih belum pasti tentang asupan protein dan tingkat ghrelin. Oleh sebab itu kita masih perlu menggunakan alasan, logika, dan pengalaman ketika mengumpulkan informasi dari penelitian.

suplemenku-protein-2

Sekarang kalian sudah tahu fakta dan mitos tentang protein. Mampirlah ke bagian suplemen untuk melihat-lihat jika ada yang cocok. Diantaranya kami memiliki Susu Protein untuk badan kurus (whey gainer), susu protein untuk badan ideal (whey blend), susu protein untuk badan yang mudah gemuk (whey isolate pure). Contohnya seperti:

venum_mass_chocSusu Protein untuk badan kurus (whey gainer)

suplemenku-musclepharm-combatSusu protein untuk badan ideal (whey blend)

suplemenku-iso-100Susu protein untuk badan yang mudah gemuk (whey isolate pure)


Artikel terkait:

By: Calvin Chiu


References:
Blom, A.M., Lluch, A., Stafleu, A., Vinoy, S., Holst, J., Schaafsma, G., & Hendriks, H. (2006). Effect of high-protein breakfast on the postprandial ghrelin response. The American Journal of Clinical Nutrition, 83(2), 211-220.
Bowen, J., Noakes, M., Trenerry, C., & Clifton, P.M. (2006). Energy intake, Ghrelin, and Cholecystokinin after Different Carbohydrate and Protein Preloads in Overweight Men. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 91(4).
Lucas, M, & Heiss C.J. (2005). Protein needs of older adults engaged in resistance training: A review. Journal of Aging and Physical Activity, 13(2), 223-236.
Moran, L.J., Luscombe-Marsch, N.D., Noakes, M., Wittert, G.A., Keogh, J.B., & Clifton, P.M. (2005). The Satiating Effect of Dietary Protein is Unrelated to Postprandial Ghrelin. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 90(9).
Weigle, D.S., Breen, P.A., Matthys, C.C., Callahan, H.S., Meeuws, K.E., Burden, V.R., & Purnell, J.Q. (2005). A high-protein diet induces sustained reductions in appetite, ad libitum caloric intake, and body weight despite compensatory changes in diurnal plasma lepton and ghrelin concentrations. The American Journal of Clinical Nutrition 82(1), 41-48.
Westerterp, K.R. (2004). Diet induced thermogenesis. Nutrition & Metabolism, 1, 1-5
Please follow and like us: